UGLY DUCK : Do you know who I am?
BEAUTY QUEEN : Of course I do, you're an ugly duck!
UGLY DUCK : No, I am not. I'm just a PERFECTIONIST, someone who can make you look and feel perfect! :)
#beingsilly#
#anotherwaytoseethings#
Saturday, January 14
WHAT HAPPENS
YOUNG SHEEP : Why bad things always happens to good sheeps?
OLD SHEEP : Perhaps it's to keep them safe from the worse things that might happen to bad sheeps!??
YOUNG SHEEP : Owh...Ok...I'll be a good sheep then!
#innocent#
#thegoodsheep#
OLD SHEEP : Perhaps it's to keep them safe from the worse things that might happen to bad sheeps!??
YOUNG SHEEP : Owh...Ok...I'll be a good sheep then!
#innocent#
#thegoodsheep#
PRAYER OF A GRATEFUL PREY
Thank God for the pre-dator today, so that we know what to do when a dator really comes!
#beingsilly#
#thereisalwayssomethingtobegratefulfor#
#beingsilly#
#thereisalwayssomethingtobegratefulfor#
Thursday, January 12
THANK YOU, GOD!
Sunday, December 11, 2011 at 2:21pm
Thank you, God!
You have no facebook but we’re friends forever
You have no twitter but You follow me all the time
You have no camera but You capture my every moment
You have no phone but you always call me
You have no Blackberry but You often ping! my heart
You have no Apple but you dropbox me your blessing every second!!!
Thank you, God!
You have no facebook but we’re friends forever
You have no twitter but You follow me all the time
You have no camera but You capture my every moment
You have no phone but you always call me
You have no Blackberry but You often ping! my heart
You have no Apple but you dropbox me your blessing every second!!!
LEBAR
Friday, July 29, 2011 at 6:01pm
Tidak ada yang istimewa dengan kata L-E-B-A-R. Tidak berkonotasi negatif ataupun positif. Tapi sekarang kata itu terasa "berbeda" setiap kali aku mendengarnya :)))
Pagi itu aku memakai gaun terusanku yang baru. Semakin merasa cantik dengan sepatu putihku yang juga baru. Percaya diripun membanjiri aliran darah dan memenuhi nafasku untuk pekerjaan kali ini yang harus dimulai begitu dini. Masih sedikit mengantuk karena saya bukan (dan sepertinya tidak akan pernah jadi) morning person. Tapi perasaan positif berhasil membantuku melewati pagi sampai akhirnya pekerjaan hari itu sebagai MC di sebuah acara perempuan-perempuan Jakarta selesai tepat pada waktu makan siang.
Akupun berbaur dengan peserta dan penyelenggara saat makan siang. Salah seorang perempuan mendekatiku.
"Hi mbak Pinky, aku liat-liat dari tadi mbak Pinky mukanya makin lebar ya?"
"Hi juga, oya? lebar???? hehehe maksudnya? (aku masih sedikit bingung untuk langsung berkesimpulan, maklum setiap harinya otakku baru lebih bisa mencerna setelah selesai jam makan siang) Maksudnya gendutan kali ya?
"Iya, itu maksudnya...bener gendutan ya mbak Pinky?
"Ohhhh, mendingan langsung bilang gendut deh mbak daripada M-U-K-A L-E-B-A-R"
Ohhh, kejamnya ibukota! bukan sih...tapi...
Ohhh, kejamnya perempuan Jakarta! bukan juga sih...tapi...
Ohhh, kejamnya dunia basa-basi ini! *tutup muka guling-guling di lantai, susah untuk kembali merasa cantik LOL*
PNEUMONIA
Tuesday, June 14, 2011 at 1:28am
Masih seputar ilmu baru tentang Pneumonia. Para orangtua disadarkan untuk mengenali gejala penyakit yang disebabkan bakteri dan virus ini sejak dini agar tidak dikira flu, batuk, dan demam biasa pada balita. Salahsatu cara termudah mendeteksinya adalah dengan melihat tarikan nafas yang sampai mencekungkan dada dan lewat hitungan nafas per menitnya.
Usia 0-2 bulan = tidak boleh lebih dari 60 kali per menit
Usia 2 bulan - 1 tahun = tidak boleh lebih dari 50 kali per menit
Usia 1 - 5 tahun = tidak boleh lebih 40 kali per menit
Hmmmmmmmmmm...
Setiap mengingat 'dia' nafasku 101 kali per menit dan dada seolah cekung menganga. Aku menderita Pneumonia!!?? Arrrghhhhh, lagi-lagi aku lupa bertanya, berapa kali per menit untuk orang dewasa :)))
KRONIS AKUT
Tuesday, June 14, 2011 at 12:38am
Hah!!! Membutuhkan 33 tahun untuk aku mengerti kata KRONIS dan AKUT bahwa artinya TIDAK SAMA dengan PARAH! Satu rentang waktu yang bahkan mengalahkan lamanya Orde Baru berkuasa. Ckckckck. Itulah efek 'sotoy' berkolaborasi dengan 'tidak begitu pintar' dicampur beberapa tetes 'gengsi bertanya' yang dimasak dengan 'malas membaca'. Untung seorang malaikat pencerah hadir dalam bentuk seorang Dr. Wahyuni dari IDAI (Ikatan Dokter Anak Indonesia) di sebuah senin sore. Inti obrolan sebenarnya seputar Pneumonia, penyebab no. 1 kematian anak di dunia dimana Indonesia berada di urutan ke-6.
Dari sekian banyak pengetahuan baru yang bermanfaat dari Dr. Yuni, begitu dia dipanggil untuk para orangtua agar mengenali gejala pneumonia, perbedaan pengerrtian akut dan kronis yang paling menempel di kepala.
AKUT : (terjadi dengan) cepat dan mendadak.
KRONIS : (terjadi dengan) pelan-pelan.
Hmmmmm, aku mengangguk-ngangguk dan mengerjap-ngerjap terpesona. Ohhhh, berarti yang selama ini terjadi adalah:
Jatuh cinta akut?
Mati lampu akut?
Kaya akut.
Bahkan....dangdut akut?
Lalu:
Mungkin sebaiknya rambu di jalan kecil pemukiman padat atau didepan sekolah-sekolah bertuliskan.....Harap kronis, banyak anak-anak?
Dan aku, menua kronis??? Haha
Sekedar pertanyaan yang belum sempat dijawab oleh Dr. Yuni :p
IT'S OK
(Tuesday, May 31, 2011 at 8:33pm)
It's ok if you sometimes cry, so you see who offer you smile
It's ok if you sometimes feel stupid, so you learn something new
It's ok if you sometimes make mistakes, so you know who forgive you
It's ok if you sometimes get lost, so you meet those who sincerely show you the way
It's ok if you sometimes don't know what you want, so you let life shows you what you need
It's ok...
Everything will be beautiful in its time
It's ok if you sometimes cry, so you see who offer you smile
It's ok if you sometimes feel stupid, so you learn something new
It's ok if you sometimes make mistakes, so you know who forgive you
It's ok if you sometimes get lost, so you meet those who sincerely show you the way
It's ok if you sometimes don't know what you want, so you let life shows you what you need
It's ok...
Everything will be beautiful in its time
THE ROYAL WEDDING HOMILY
Sunday, May 1, 2011 at 1:45pm
Saat semua orang memperhatikan desain topi-topi spektakuler apa dipakai siapa,baju buatan mana, dan sebagainya. Saya justru tidak bisa diganggu saat mendengarkan khotbah perkawinan untuk pasangan abad ini Prince William-Kate Middleton saat upacara perkawinan mereka di gereja Westminter Abbey pada hari Jumat tanggal 29 April 2001 lalu. Salahsatu nasehat perkawinan dan membangun keluarga TERBAIK dan TERINDAH yang pernah saya dengar!!! Entah berapa banyak yang benar-benar menyimaknya (dan benar-benar berjanji menerapkannya dengan segenap kekuatannya?). Ummmm, saya sudah lebih bijaksana atau sekedar tua, ya? haha
The Royal Wedding homily, given by Dr. Richard Chartres, Anglican Bishop of London:
Dearly Beloved...
"Be who God meant you to be and you will set the world on fire.” So said St Catherine of Siena whose festival day it is today. Marriage is intended to be a way in which man and woman help each other to become what God meant each one to be, their deepest and truest selves.
Many are full of fear for the future of the prospects of our world but the message of the celebrations in this country and far beyond its shores is the right one – this is a joyful day! It is good that people in every continent are able to share in these celebrations because this is, as every wedding day should be, a day of hope.
In a sense every wedding is a royal wedding with the bride and the groom as king and queen of creation, making a new life together so that life can flow through them into the future.
William and Catherine, you have chosen to be married in the sight of a generous God who so loved the world that he gave himself to us in the person of Jesus Christ.
And in the Spirit of this generous God, husband and wife are to give themselves to each another.
A spiritual life grows as love finds its centre beyond ourselves. Faithful and committed relationships offer a door into the mystery of spiritual life in which we discover this; the more we give of self, the richer we become in soul; the more we go beyond ourselves in love, the more we become our true selves and our spiritual beauty is more fully revealed. In marriage we are seeking to bring one another into fuller life.
It is of course very hard to wean ourselves away from self-centredness. And people can dream of doing such a thing but the hope should be fulfilled it is necessary a solemn decision that, whatever the difficulties, we are committed to the way of generous love.
You have both made your decision today – “I will” – and by making this new relationship, you have aligned yourselves with what we believe is the way in which life is spiritually evolving, and which will lead to a creative future for the human race.
We stand looking forward to a century which is full of promise and full of peril. Human beings are confronting the question of how to use wisely a power that has been given to us through the discoveries of the last century. We shall not be converted to the promise of the future by more knowledge, but rather by an increase of loving wisdom and reverence, for life, for the earth and for one another.
Marriage should transform, as husband and wife make one another their work of art. It is possible to transform as long as we do not harbour ambitions to reform our partner. There must be no coercion if the Spirit is to flow; each must give the other space and freedom. Chaucer, the London poet, sums it up in a pithy phrase:
“Whan maistrie [mastery] comth, the God of Love anon,
Beteth his wynges, and farewell, he is gon.”
As the reality of God has faded from so many lives in the West, there has been a corresponding inflation of expectations that personal relations alone will supply meaning and happiness in life. This is to load our partner with too great a burden. We are all incomplete: we all need the love which is secure, rather than oppressive, we need mutual forgiveness, to thrive.
As we move towards our partner in love, following the example of Jesus Christ, the Holy Spirit is quickened within us and can increasingly fill our lives with light. This leads to a family life which offers the best conditions in which the next generation can practise and exchange those gifts which can overcome fear and division and incubate the coming world of the Spirit, whose fruits are love and joy and peace.
I pray that all of us present and the many millions watching this ceremony and sharing in your joy today, will do everything in our power to support and uphold you in your new life. And I pray that God will bless you in the way of life that you have chosen, that way which is expressed in the prayer that you have composed together in preparation for this day:
God our Father, we thank you for our families; for the love that we share and for the joy of our marriage.
In the busyness of each day keep our eyes fixed on what is real and important in life and help us to be generous with our time and love and energy.
Strengthened by our union help us to serve and comfort those who suffer. We ask this in the Spirit of Jesus Christ. Amen.
Wednesday, November 12
GARA-GARA R. A. KARTINI
Selasa, 12 November 2008
05.17
*Dedicated to Beta, Qonita, and Iriel. Thanks for a wonderful chat at Sushi time*
05.17
*Dedicated to Beta, Qonita, and Iriel. Thanks for a wonderful chat at Sushi time*
LOGIKA dengan antusias menceritakan kisah cinta temannya yang sudah pacaran 10 tahun ternyata menikah hanya untuk 3 minggu.
REALITA membalas, bahwa dia juga punya teman yang menikah dengan sahabatnya sendiri yang telah dikenal bertahun-tahun tapi hanya sanggup bertahan dalam "bahtera" itu dalam hitungan bulan, tuh.
KEINGINAN tak kalah seru, ia sempat iri dengan kehidupan temannya yang terus terlihat bahagia karena memiliki segala yang diimpikan hampir semua wanita: perkawinan dengan suami ganteng dan mapan, anak yang lucu-lucu, belum lagi ukuran badan dan penampilan sang teman yang bahkan masih bisa mengalahkan pasaran perempuan-perempuan lajang ibukota. Tapi rasa iri itu berubah jadi sebuah diam, saat dia mendengarkan pengakuan sang teman yang terus berdandan hanya untuk menutupi ketidakbahagiaan dalam perkawinan. Bahwa sang teman pada akhirnya menyerah dengan semuanya dan....bercerai.
KATA HATI dan INSTING hanya mendengarkan dengan mata mengerjap-ngerjap sembari menyeruput minuman panas milik masing-masing dalam obrolan lebih panas di tengah Jakarta yang sangat panas.
REALITA:
Gue nggak ngerti. kenapa ribet banget sih kayaknya "marriage life" hari gini? Percuma pacaran lama tapi nggak jaminan. Kenal lama sebelumnya juga nggak ngasih jawaban. Apalagi ama yang baru kenal 1 bulan? Sepertinya itu bunuh diri pelan-pelan. Kok ngga kayak jaman emak-emak kita dulu ya?
LOGIKA:
Iya. Ngga tau, ya. Apa karena dulu tujuan akhir dari setiap perempuan memang cuma ampe jadi istri dan punya anak aja ya? Karena itu urusan bibit bebet bobot juga jadi penentu paling dahsyat. Namanya juga tujuan akhir. Coba tanya emak-emak kita. Mereka udah sangat bersyukur ngeliat kita anak-anak mereka selesai sekolah, dapet kerjaan, dan berharap-cenderung panik- kita buruan nikah untuk nanti bisa kasih cucu ke mereka. Se-simple itu. Itu keinginan terakhir mereka. Ngeliat cucu. Jadi ya, mereka punya kecenderungan untuk mengabdi kemanapun suami-suami mereka a.k.a bokap-bokap kita ngebawa mereka dalam hidup ini. Dan itu ngebuat emak-emak kita pun sanggup bertahan dalam kondisi apapun demi keutuhan keluarga. Kan tujuan akhir? Mau ngapain lagi? Ditambah lagi, perceraian dalam budaya masa-masa itu aib yang nggak akan bisa diterima oleh keluarga.
KATA HATI pun menambahkan:
Iya ya. Sementara perempuan-perempuan sekarang? Menikah bukan tujuan akhir, ya? Menikah itu salah satu event dalam hidup lu. Apalagi pereu-pereu kayak lu, kayak kita, kali? Lu pasti punya tujuan hidup independent buat diri lu sendiri mau ngapain di dunia ini, kan? Karenanya, mungkin itu yang bikin jadi lebih susah untuk nemuin orang yang tepat searah ama tujuan lu itu. Belum lagi urusan speed-nya lah, power-nya lah, endurance-nya lah kalo mau sejajar di track yang sama. Ya nggak? Sekarang lu aja bisa berantem untuk urusan pengen punya rumah di tengah ato mending di pinggir kota Jakarta? Ato urusan anak harusnya sekolah dimana? Apalagi ikutan mengabdi ama suami lu di pedalaman Papua? Buntut-buntutnya dalam itungan bulan baru deh ngerasa "beda prinsip".
REALITA:
Lagian kan hari begini cerai udah biasa, ya? Nggak malu-maluin amat. MBA aja udah bukan aib, kok...
INSTING akhirnya ikut bicara:
Mungkin, apa karena itu ya? Kok kalo gue perhatiin, temen-temen kita yang hidupnya lebih "lurus" dan nggak neko-neko punya tujuan hidup independent yang aneh-aneh segala, jadi lebih mudah dapat pasangan, ya?
KEINGINAN:
Ato intinya karena mereka nggak lebih cerewet aja kayak lu, kayak kita kali? Ato gue doang?
LOGIKA:
KATA HATI, tumben lu tau arah omongan gw? Jadi intinya sih, gue cuma mau bilang kalo kayaknya ini semua salahnya R. A. Kartini. Dia yang bikin kita perempuan-perempuan di jaman ini jadi lebih susah cari calon suami. Semacam mengajak-ajak makan Apple of Knowledge. Dan kita 'kemakan'.
Huahauahuahuaa. Lima sahabat itu tergelak di tengah salah satu dari sekian banyak obrolan makan malam yang menyenangkan. Mereka selalu bersama meskipun saling berbeda. LOGIKA si supel yang memang paling bisa mencari-cari yang bisa disalahkan dalam segala situasi dengan cara bercanda sarkastis-nya. KEINGINAN yang ukuran tubuhnya paling besar, paling sukar ditebak karena seleranya suka berubah-ubah. INSTING yang cukup ringkih kadang suka kasih peringatan meskipun kadang juga suka gampang terpengaruh KEINGINAN. Kalo udah begini, KATA HATI yang selalu netral akan berusaha menengahi. Sayangnya ia susah ditemui. Sementara REALITA si gaul yang tak pernah ketinggalan di setiap kesempatan, suka sekali mengaburkan semuanya kembali.
Mungkin itulah yang membuat mereka sanggup bertahan untuk bersahabat cukup lama.
PERAWAN TUA
Rabu, 12 November 2008
03.30
*Dedicated to my lovely friend, Beta and all my “old virgin” friends in Jakarta. Hihi ;p*
03.30
*Dedicated to my lovely friend, Beta and all my “old virgin” friends in Jakarta. Hihi ;p*
Lima matahari sedang menyengat kota Surabaya siang itu. Serasa menghabiskan wiken di Afrika dengan kesibukan ala New York. Temanku, sebut saja namanya Bunga (Red: bukan nama sebenarnya, tapi konon nasibnya selalu nyaris jatuh seperti nasib Bunga-Bunga lain dalam tayangan Reka Ulang di TV) harus meninggalkan Jakarta demi bekerja di sana di sebuah akhir minggu.
Badan pegal-pegal pun mulai mengirimkan sinyal untuk membuat Bunga harus mencari pertolongan tukang pijet. Setelah tanya sana tanya sini, seorang rekan kerja dari tim kerja lain yang cukup terpercaya dan konon mengenal Surabaya cukup baik pun dengan yakin dan mantabhhh merekomendasikan seorang tukang pijet bernama….*Tatataaaaaaaaa!!!! Harus pake efek ini, Cinkkk*….Mas Toyib!!!
Ada yang aneh…It’s supposed to be Bang Toyib…dan itu bukannya tidak terpisahkan? Tidak boleh menggunakan kata sapaan lain. Nggak klop. Well, nggak penting juga. Keanehan nama itu tidak cukup mengganggu untuk keinginan pijat yang menggelora.
Hingga terdengarlah ketukan di pintu kamar hotel tempat Bunga dan rekan sekerjanya dari Jakarta menginap. Teman sekamar yang membukakan pintu terkaget-kaget. Karena tubuh kekar ala Ade Ray berbalut kaos pas badan berdiri sopan di depan pintu. Tampang “ganteng jawa” dengan kulit sawo matang itu melempar tersenyum tipis. Siapa yang pesen gigolo?
Toyib : Siang…mbak yang mau pijet?
Bunga : Eh oh..eh…Mas Toyib, ya?
Toyib : Iya…mau pijet kan, Mbak?
Bunga : Ah..Eh..Umm…Iya...
Teman sekamar Bunga cuma bisa bengong. Bunga dengan gaya kikuk dan ribetnya menyongsong ke pintu. Ketemu satpam ganteng aja dia bisa hampir lemes dan ngomong beribet, apalagi tukang pijet seganteng ini yang akan menyentuh seluruh syaraf kaki dan punggung dan kepalanya? Ow ow ow…kayaknya ga jadi pijet punggung dan kepala deh. Daripada terjadi hal-hal yang diinginkan? (Baca:diidam-idamkan). Keanehan untuk ukuran figur tukang pijet ini pun sudah tidak sanggup menahan gejolak keinginan untuk merasakan tekanan-tekanan di titik-titik syaraf yang begitu lelah. Meskipun dengan figur begini, urusan pijet jadi “kentang” alias kena tanggung, karena-tidak memungkinkan-untuk pijet seluruh badan.
Sesi pijet dimulai. Silahkan bayangkan apa yang terkesan, seandainya mendengar percakapan Tukang Pijat-TP dan korban (ato Klien Pijet-KP dan korban?) dari balik pintu bilik kecil itu. *Hweeee, bilik???? Biar lebih terasa seperti narasi adegan Reka Ulang aja, sih. Hehe*
TP : Sampe atas, Mbak?
KP : Ummhhh…bawah aja.
TP : Balik badan ya Mbak, sekarang dari belakang.
KP : Oh eh...depan aja ah, Mas.
Bunga terlalu panik untuk membiarkan jemari besar-besar itu melewati punggung dan pundaknya dari belakang tanpa dia bisa mengendalikan pergerakan ataupun menyelidiki ekspresi Mas Toyib. Tapi akhirnya Bunga tetap harus balik badan untuk bisa dipijet betisnya. Daripada tetap berhadapan tapi maksain pijet betis? Pasti harus dengan posisi lain yang jauh lebih spektakuler. Haha.
Sesi pijet dilanjutkan. Obrolan lain mulai mengalir. Seiring dengan mengalirnya peredaran darah di sepanjang kaki yang melegakan. Tapi kok malah menimbulkan… pegal pikiran!!!???
Mas Toyib : Mbak, aku tuh lagi kumpulin duit buat kawinin pacar aku di kampung…
Bunga : Ohya? Bagus dong…
Mas Toyib : Iya, tapi susah.
Bunga : Iya sih ekonomi memang lagi susah, tapi usaha terus aja. Pasti ada jalannya.
Mas Toyib : Bukan susah itu, Mbak. Pacar aku nya yang susah. Kasihan, dia nggak bisa kawin sama aku sebelum kakak
perempuannya kawin.
Bunga : Owh…emang kakak pacarnya Mas udah umur berapa?
Mas Toyib : 23 taun, Mbak.
Bunga : *Glek* Pacar Mas?
Mas Toyib : Udah 16 taun, Mbak.
*Dengan nada penyesalan seolah-olah itu adalah 36 tahun *
Kesian juga sih sama kakaknya itu. Kalo udah perawan tua begitu, udah bakal susah banget dapat suami.
*Dengan nada prihatin seolah-olah itu adalah 43 tahun*
Dan aku juga jadi nggak bisa-bisa kawinin pacar aku.
Bunga : *Glek glek*
Bunga refleks berbalik dari posisi tengkurapnya untuk melihat wajah Bang eh Mas Toyib. Ada raut kesungguhan di sana. Tapi kata PERAWAN TUA untuk usia 23 tahun terdengar begitu menyengat dengan pancaran sinar 10 matahari. Apakah ini masih di Surabaya? Pulau Jawa? Indonesia? Planet Bumi? *Glek glek glek*
Perempuan usia 30 tahun di Jakarta dengan karir cemerlang sekalipun seperti Bunga, tapi nggak punya pacar apalagi belum menikah pasti membuat miris orang-orang kampung halaman Mas Toyib. Dan segelintir perempuan seperti itu di kampung halamannya bahkan mungkin ada yang sudah di hukum rajam karena dikira dukun guna-guna pemakan melati yang menikah dengan mahluk alam lain jadi tidak boleh bersuamikan manusia. Atau bahkan diduga akan melakukan kejahatan mutilasi karenanya harus dibasmi sebelum benar-benar terjadi?
Owhhh, pijet yang benar-benar "kentang". Kali ini, kena tangparrrrr.
So, can we blame Syekh Pudji? Gadis 12 taun yg dikawini-nya itu pasti membuat sirik para perempuan satu kampung yang baru belajar pake miniset itu…. krn dia sangattttt beruntung. Wait, miniset??? Masih eksis ga sih? Ahhh, aku (perawan?) tuaaaaaa….jerit Bunga dalam hati.
Monday, October 20
LOMO
Senin, 20 Oktober 2008
15.55
15.55
Café cukup mewah di sebuah mall baru sore itu diisi dengan pembicaraan (baca: curhat) 3 perempuan tentang kisah (pencarian) cintanya masing-masing. Tiga gelas black coffee di meja teraduk dengan komentar slash kupas tuntas tipikal perempuan-perempuan metropolitan seperti buku Why Men Marry Bitches, film seri Sex and The City, email seorang teman tentang Petunjuk Mencari Suami Yang Baik, pengalaman orang-orang sekitar tentang What Was Their Reason To Get Married?, plus diberi “topping” www.lovecalculator.com yang dengan ajaib bisa menghitung kadar kecocokan hubungan seseorang lewat memasukkan namamu dengan nama (calon) pasangan (idaman) mu.
Perhitungan nama berlangsung dengan cukup heboh. Karena dari skala sedikit sampai skala setengah bahkan agak memaksa, nama lengkap masing-masing dikurangkan atau ditambahkan nama keluarga-nama tengah-nama beken-nama panggilan agar mungkin saja akan memberikan prosentase yang menyenangkan mata dan menyejukkan hati. Oops, nggak ngefek. Prosentase yang terlihat selalu saja di bawah 50%. Bahkan untuk beberapa nama, sudah dikurangkan dan dilebihkan bagaimana pun tetap memberikan nilai 01%. Di tengah perhitungan ala Dr. Love itu, tepatnya saat daftar nama-nama yang ingin diisikan di kolom kosong itu semakin berkurang, tiba-tiba salah seorang temanku membicarakan tentang hasrat barunya untuk memiliki kamera LOMO. Dan dia bisa menjelaskan panjang lebar dengan mata berbinar tentang kamera ini.
LOMO adalah sebuah kamera buatan Rusia yang tadinya dibuat untuk kebutuhan perang. Bentuknya tidak elegan dan bukan terbuat dari bahan yang mahal. Hanya berbahan plastik dan nggak “slim”. Seseorang yang menenteng kamera Lomo pastinya tidak terlihat sekeren orang-orang yang menenteng kamera mahal lainnya. Ditambah karena hasil foto yang selalu cacat dari jepretan kamera ini, tentu saja tidak menarik bagi para fotografer berkelas tadinya, dan dengan begitu tentu saja tidak menjadi rekomendasi bagi para orang kebanyakan. Setiap kamera Lomo memiliki kecacatan tersendiri terhadap hasil jepretannya. Semacam signature dan keunikan yang personal dari tiap kamera.
Tapi berkat seseorang, yang temanku lupa namanya, ia bilang akhirnya kecacatan hasil jepretan kamera Lomo ini berhasil diinterpretasikan sebagai karya seni yang unik. Dan entah karena orang-orang ingin dianggap berjiwa seni dan memiliki jiwa kreatif, atau pada dasarnya mata mereka semakin terbuka akan nilai seni dan keunikan dari kecacatan hasil kamera Lomo, kini akhirnya semua orang pun tertarik ingin memiliki kamera tersebut. Memiliki kamera ini pun akhirnya menunjukkan identitas tersendiri. Sebuah taste yang belum tentu dimiliki orang lain. Dan untuk memilikinya pun ternyata tidak susah dan mahal. Di mulai dari harga 400 ribu rupiah seseorang bisa memiliki kamera ini. Dan yang lebih menyenangkan dari kamera ini, termasuk juga yang lebih menarik perhatianku tentang cerita kamera ini, adalah mottonya: bawa kamera ini kemana aja…and just shoot, don’t think.
So perfect, right!!!! Harganya murah, tinggal jepret enggak pake teknik, dan kalo hasilnya cacat…kan memang itu inti dari kamera ini. Kecacatan yang membuat sempurna.
Selesai menceritakan Lomo, tiba-tiba kami tertegun dan menatap satu sama lain. Sepertinya kami bertemu dalam satu titik pikiran yang sama tanpa harus membicarakannya. Tapi akhirnya kalimat itu keluar juga….”Do you think that maybe we’re like….LOMO?” hahuahuahauhauhau. Tawa meledak. Tapi dalam nada agak miris. Karena mungkin itu excuse. Tapi hey, mungkin juga itu benar. Entah. Bisa jadi, kata-kata sakti penyembuh hati selama ini “segala sesuatu indah pada waktunya” itu memang akan benar terjadi setelah ada seseorang di luar sana yang…… berhasil melihat “kecacatan” sebagai salah satu keunikan, bukan kekurangan. Atau……setelah ada seseorang di luar sana yang….do not think, just shoot me. Huahauhauhauhauahua.
Friday, September 19
KELEBIHAN DAN KEKURANGAN
Jumat, 19 September 2008
Disuatu tengah malam yang melelahkan tapi kupaksakan untuk menemani dua orang teman makan di sebuah warung makanan jepang pinggir jalan:
“Menurut lu, apa kekurangan dan apa kelebihan lu, Pink?”
“Ummmm…kayaknya kelebihan gw, selalu berkelebihan. Dan kekurangannya, gw nggak pernah kekurangan.”
Aku menangkap tatapan si penanya yang tampak sekejap tertegun. Ini adalah pertanyaan wawancara yang direkam untuk bahan skripsinya. Temannya yang satu sudah selesai diwawancara. Tanpa rasa ingin tahu yang besar untuk bertanya apa materi skripsinya, aku juga mengiyakan saja untuk ikut diwawancara. Toh dia berjanji kalau pertanyaannya simpel-simpel saja.
Sebenernya, pikiranku juga sempet sepersekian detik terhenti dengan jawabanku sendiri barusan. Darimana datangnya jawaban itu? Itu keluar begitu saja. Tapi sepersekian detik kemudian setelah menjawab, rasanya jawaban itu memang harus dengan sangat serius aku pikirkan.
Lalu aku meneruskan lagi wawancara itu melewati beberapa pertanyaan lainnya. Pertanyaan-pertanyaan seputar apa yang aku pikirkan tentang diri sendiri dan tentang hidup. Rasanya seperti mengikuti semacam tes kepribadian untuk wawancara kerja atau pemilihan putri-putrian. Tapi setelah selesai dengan semua pertanyaan itu, aku tetap tak bisa selesai memikirkan pertanyaan dan jawaban tentang kelebihan dan kekurangan itu.
Apa yang membuat tatapan si penanya tertegun? Apa yang ada di pikirannya? Dan yang paling mengganggu, darimana datangnya kalimat jawaban itu? Dari mata jatuh ke bibir??????? Karena jawaban itu tidak pernah terpikirkan apalagi sampai bisa aku ucapkan!!!
Benarkah aku berkelebihan? Benarkah aku tidak pernah berkekurangan? Kepala ini terus berputar ke masa lalu, masa sekarang, dan kemungkinan-kemungkinan masa depan sambil tetap berusaha fokus menimpali obrolan dengan teman di depanku ini. Hingga akhirnya…
“Udah biarin gw yang bayar, Pink…”
“Serius lu?”
“Iya gapapa, lagian lu cuma teh manis panas doang nemenin gue makan. And thanks buat interview-nya juga.”
“Asik, thanks ya.”
Salahsatu bukti bahwa aku berkelebihan???? Berkelebihan dengan teman-teman yang baik seperti ini dalam hidupku. Dan bukan hanya soal traktir. Berapa banyak yang sering membuat aku tertawa, ikutan senang saat aku senang, ikutan sedih saat aku sedih, ikutan marah-malah kadang dengan porsi yang jauh berlebihan dari akunya sendiri-saat aku sedang marah sama seseorang, yang memberi side job-side job tambahan, yang mengenalkan dengan teman-teman baru, yang mengajarkan permainan-permainan tolol baru, yang tiba-tiba menelpon say hello di saat aku baru saja memikirkan dan merindukan mereka, yang tiba-tiba ngasih inspirasi bahan siaran dengan curhatan mereka, atau bahkan menginspirasi jalan hidupku dengan prestasi mereka? Ya, ternyata aku berkelebihan.
Benarkah aku tak pernah berkekurangan????? Aku memikirkan ini lama sekali. Apakah masih kurang uang? kurang rumah? kurang mobil? kurang langsing? Kurang gendut? kurang mulus? kurang cantik? kurang gaya? kurang liburan? kurang gebetan? kurang panjang rambutnya? kurang prestasi? kurang pintar? kurang terkenal?
Kalaupun benar semua di atas itu statusnya kurang….thanks God, kenapa masih banyak yang mau berteman? Kalau saja aku tak kekurangan semua hal di atas itu, mungkin malah aku tak punya teman?
Wah, darimana pun datangnya kalimat itu. Aku harus berterima kasih pada yang mengucapkannya. Bukan, pastinya kalimat itu bukan dari aku.
Thanks Edric untuk pertanyaan itu dalam wawancara skripsi lu. Kalau lu ngga pernah nanya, “siapapun itu” tidak akan pernah menjawabnya. Jawaban atas semua pertanyaanku tentang penyebab lelahku malam itu. Malam dimana seharusnya aku tidak perlu lelah, begitu juga dengan malam-malam berikutnya. Karena ternyata aku berkelebihan, dan tak pernah kekurangan.
Wednesday, April 30
KOPI YANG BAIK
CICI :
Untuk ngetes kopi yang baek, taruh sendoknya di atas busa kopinya.
Untuk ngetes kopi yang baek, taruh sendoknya di atas busa kopinya.
Kalo sendoknya ngambang, berarti brewing-nya bagus. Seperti kopi di depan gw ini….
*menaruh sendok di atas busa kopinya, sendoknya tak tenggelam di balik busa*
Kopi ini ok juga.
PINKO :
Mmmmm….
*mengangguk-angguk tanda baru mengerti*
ODIT :
Naaah, kalo mo ngetes cowok-cowok yang baek? Taro di hati loe, kalo ngambang…
Justru berarti nggak baek!!!
*giving a big naughty smile*
PINKO&CICI :
hwaaaaaaaaaaaaaaa…..gedubrakkkkkk!!!!!
*terpeleset, tersandung, tertabrak....hatinya*
PINKO :
*koma....dan mulai dapat 'penglihatan' dr masa lalu...masa skr...mungkin juga itu masa depan...
Dan mendapatkan kesimpulan....
”Mereka” tampaknya tidak mengambang….
”Mereka” timbul tenggelam?????*
Monday, December 3
JALAN ORANG
Senin, 3 Desember 2007
+ Jadi adek-adek ini nggak bisa nyetir?
++ Belum bisa, pak…bukan nggak bisa…
Ternyata orang ini menyimak ‘pembicaraan keluarga’ aku dan adikku tentang semua perempuan dalam satu rumpun kekerabatan darah yang tidak bisa menyetir.
+ Gampang dek…saya kasih tau kuncinya ya.
++ Bapak udah lama nyetir?
Jangan terlalu gampang percaya dengan orang asing, kan?
+ Wah saya udah 13 tahun nyetir taksi, neng. Dan dengan kunci ini, alhamdulilah saya nggak pernah kecelakaan. Pokoknya saya mah jauh lah neng dari kecelakaan.
Wow, pasti ini kunci ajaib.
++ Emang kunciannya gimana tuh pak?
+ Anak-anak saya 3 orang pokoknya saya kasih kunci ini juga…alhamdullilah nggak pernah kecelakaan.
Dia denger nggak sih.
++ Kuncinya apa dong?
+ Pokoknya mah neng, jangan ambil JALAN ORANG.
Kuncinyaaaaaaaaaaaaaa.
++ Pak, ya kuncinya apa dong tuuuh?
+ Ya itu neng…jangan ambil JALAN ORANG.
Owh? Salah sendiri intonasi kalimatnya nggak jelas. Tapi…
++ Maksudnya jangan ambil rejeki orang?
+ Bukaaaan…gini nih neng…ini kan ada garis pembatas tengah jalan. Naaa, neng harus tetap di jalan neng, JALANnya KITA…jangan ambil JALAN ORANG kayak begini (sambil memperagakan mobil jadi sedikit melenceng ke kanan).
Hmmm. Hm? Dan dia tetap melanjutkan.
+ Kalo ngambil JALAN ORANG mah…pasti rawan kecelakaan. Jangan mentang-mentang sepi, terus ngerasa mobil kita boleh di tengah. Apalagi kalo kita mo belok kayak gini. Jangan sekali-sekali, neeeeng…bapak mah kasih tau aja.
Kami pun berbelok ke kanan. Satu belokan terakhir lagi ke kiri akan mengantarkan aku dan adikku ke tempat tujuan.
+ Keliatannya sih sepi ya neng. Padahal mana tau kalo nanti tiba-tiba ada mobil ato motor dari depan. Bahaya pisan.
Pokoknya mah tetap di JALAN KITA aja, jangan ambil JALAN ORANG.
++ Kalo kita nggak ambil jalan orang, tapi orang yang seenaknya ambil jalan kita, gimana dong?
+ Itu mah gampang. Tinggal banting setir dikiiit aja ke kiri jalan, pasti kita lepas dari bahaya. Yang penting kita tetap di JALAN KITA. Neng mau ngebut juga terserah, yang penting jangan ambil JALAN ORANG.
Cewek-cewek sekarang teh senengnya ngebut-ngebut. Kemaren bapak aja sampe kaget, ada 6 mobil bereretan kebut-kebutan. Cewek semua, neng! Gapapa lah. Asal itu ajalah neng, nggak ambil JALAN ORANG. Dan tetap hati-hati.
Kami lalu berbelok ke kiri. Melewati beberapa rumah dan akhirnya sampai di tempat yang dituju.
++ Ini pak. Kembaliannya biar aja. Nuhun pisan pak.
+ Iya neng. Sama-sama.
Entah berapa kali dia menyebutkan ‘JALAN KITA’ dan ‘JALAN ORANG’. Tetap di 'jalan kita'…jangan ambil 'jalan orang'. Dan entah mengapa, aku merasakan bahwa dia sebenarnya TIDAK SEDANG BERBICARA tentang SEBUAH KUNCI untuk menyetir. Entahlah.
Friday, November 23
THE UNFINISHED BUSINESS
Trace your life back.
How many unfinished business u have?
Beberapa diantaranya perlu benar-benar diselesaikan. Beberapa lagi mungkin tidak. Tapi mungkin gara-gara ada beberapa celah di kepala yang sudah tidak begitu dibutuhkan untuk urusan sehari-hari karena sudah otomatis terpola…atau mungkin seiring dengan banyaknya celah bersisa karena banyaknya waktu yang dimiliki sekarang…atau justru karena kubikel otak terlalu jenuh berjejal sehingga menciptakan gelembung baru yang minta diisi, karena itu seseorang lalu bisa saja tiba-tiba punya keinginan besar mengisi celah atau gelembung itu untuk sekedar merapikan-sambil siapa tahu menemukan petualangan dalam-some of unfinished business.
Well, trying to swing from extreme to extreme for something we call answer or proving. Spending so much energy to fulfil a piece-little fact big effect-of neverending curiosity. Let’s see what you can come up with.
Ryo Ardhana
26-04-07 03:25
Feel like wanna stop the time for running…Anyway it was a great conversation that we had just now. Sleep tight Pink…
Pinkan
26-04-07 03:30
It was not only great, it was the greatest conv i’ve ever had..thx a lot ry..and keep ‘wondering’ about what u’ve just asked..ego cewek..hehe..sleep tight too
Ryo Ardhana
26-04-07 03:31
Hahahahahaha with no doubt… I will…
Tiga sms penutup sebelum tidur yang bikin susah tidur. Cukup 3 sms itu saja bisa menyempurnakan (how complicated) my day (was) untuk membayar sebuah rasa penasaran. Sebuah rasa penasaran yang diisi dengan 3 jam ‘ngegotik’ (ngobrol and ngupi-ngupi cantik halahhhh)…yang ternyata tidak cantik juga, karena malam itu tidak sedang berusaha (keras seperti biasanya) untuk terlihat cantik. Greatest conversation, setidaknya itu ungkapan jujur. It was the greatest conversation…that unfortunately created greatest tsunami in my head (and heart, definitely). I don’t think I can do it again next time, with my other unfinished things.
Berawal di suatu sore…urus-urus setumpuk administrasi kerjaan ampe murus-murus…ngulik dana pendidikan untuk masa depan beberapa anak dari sebuah keluarga muda…itung-itung dana pensiun dari 12 karyawan sebuah perusahaan kecil yang baru berkembang…presentasi bisnis dengan seorang teman…meeting dengan client lain dari luar kota…tanpa terasa setengah 10 malam. Exhausted. Tapi puas…semua berjalan lancar…berasa pinter dan tegar mengalahkan kerasnya ibukota, plus sanggup menguasai permainan hidup…hehe berlebihan abesss.
Sampai rumah…tawaran makan (kelewat) malam sop kambing di roxy kayaknya bakal bikin sempurna hari ini. Thanks to Deya…mahluk kos yang penjelajah wisata kuliner di jam-jam enggak lazim. And thanks to Bebe. Yang selalu mengiyakan segala bentuk ajakan baik lazim atau tak lazim di jam-jam nggak lazim. Punya 2 jenis teman seperti itu bakal nggak akan masalah untuk beraktivitas apapun-kapanpun-dimanapun, apalagi untuk sekedar mencari makan. Kalo sudah tidak ada mereka berdua di dunia ini, mungkin aku akan mulai berteman dengan Teh Botol.
Urusan kerja nggak masalah, urusan makan nggak masalah, tiba-tiba hidup gue kedatangan yang entah namanya masalah atau apa…lewat 1 panggilan telpon dari ‘teman’ lama yang sebenarnya sudah entah dimana kabarnya. Hasilnya?
Percakapan segi empat di salahsatu café 24 jam hasil janjian lewat panggilan telpon tadi sebenarnya berjalan cukup lancar. ‘Basa-basi bergembira’ terlaksana dalam suasana sempurna.
“Jadi selain gw, lu ga pernah punya cerita lagi ama anak teknik?”
Nahhh…kayaknya masalah atau apapun itu dimulai dari pertanyaan ini. Dua orang (yang tadinya) partner makan sop kambing langsung menganalisa semua makna dan maksud di balik pertanyaan itu dengan otak mereka (yang kayaknya sih sebenarnya sama aja kecilnya ama punya gw…tapi cukup cepat untuk berkesimpulan) sehingga dengan penuh pengertian mereka pun pasang muka capek dan ngantuk dan cabut…membiarkan aku berdua saja ngobrol dengan sang penelpon di tempat ngopi ini, dengan 1 botol bir dihadapannya…(loh?)
Ryo Ardhana. Sekali lagi, ini adalah “teman” lama. Wajar kalo terlalu banyak yang mau saling diceritakan. Setidaknya itu yang terlintas di kepalaku kenapa merelakan diri untuk tinggal ngobrol lebih lama di tempat ini. Tiba-tiba satu titik dari berbelas-belas…eh berpuluh-puluh…nope, satu dari beratus-ratus ribu titik lainnya di hati ini yang tadinya tak terlihat mulai menunjukkan sinyal ‘on’ dengan warna hijau terang yang menyala. Titik hijau yang keciiiiiillll tapi benderang dari titik lainnya. Titik hijau yang tampaknya tidak akan bereaksi kalo pun dipencet berkali-kali. Hopefully.
BEBE
26-04-07 00:44
Eh,pink, ada warung kuning dpn ohlala yg buka 24jam, utk beli “sarung”…(kata deya looh) hehehe bcanda…Wajah mirip lw,jeng ;D
Oke. Bebe dan Deya mulai mengeluarkan isi kepala mereka sembari pulang. Aku mulai membayangkan apa saja yang jadi obrolan mereka sepanjang perjalanan pulang tentang orang di hadapanku ini.
“Dasar…nih, otak temen2 gw…geblek yak.. hehe” kataku menceritakan isi sms itu, tentunya tanpa menambahkan kata-kata ‘wajah mirip lw’-nya. Aku cuma tidak mau dia berpikir lebih. Kata-kata itu juga yang dulu pernah dilontarkan seisi dunia saat orang di depanku ini pernah memasuki kehidupanku. Aku menatap kembali keindahan ‘gaun impian’ yang pernah sukses aku lupakan ini. ‘Gaun impian’ di etalase. Gaun yang bahkan semua orang di dunia ini sarankan untuk membeli, kecuali sang desainer. Karena cuma dia yang tahu kalo gaun ini meskipun sangat pas dengan ukuran tubuhku tapi tidak dia buat untuk aku, sehingga dia diam saja berharap aku mengerti sendiri. Gaun yang aku tahu akan membuatku terlihat seperti putri salju yang cantik, seolah sengaja dirancang untukku. Tapi akhirnya aku tersadar kalau harganya terlalu mahal, padahal belum tentu dapat sering aku gunakan. Untuk menghibur, aku lebih baik katakan kalau lemariku masih lebih terlalu bagus untuk diisi gaun itu. Entah apa yang membuat aku saat itu bisa bertahan untuk tidak menjadi impulsive buyer. Bukan karena aku benar-benar mengerti, hanya karena aku menahan diri.
“Wah, orang berasumsi karena apa yang mereka liat dan tangkap dengan mata atau telinga. Are you…ummm…???” dia membuyarkan nostalgiaku yang kunikmati sendiri.
Dan hey, itu pertanyaanku, tahu. Tapi yang keluar, “Ya ga laaahhhh. Ga tadinya, sampai sebelum mereka sms begitu. Hehe, kiddin…”
Oops, did I push the green button a little bit too hard? Nggak sengajaaaaa…sumpeeee. Keluar begitu aja. Obrolan berlanjut.
“Ingat nggak waktu atm gw ilang….terus ternyata kok bisa ada di dompet lu?”
“Gw inget kok kamar kos lu waktu kuliah dulu…turun tangga sebelah kanan…”
“Oh..asbak yin yang itu…ya ya ya…berarti cowok teknik itu sebelum lu kenal gw”
“Terakhir gw denger lu ama orang Jogja. Gw pikir baguslah. Didn’t work out?”
“So, now you’re free? Totally free as a bird?
Okeh….suasana ‘nostalgia’ berbalut ‘teman lama’ sudah mulai berasa lewat serentetan pertanyaan dan pernyataannya itu. Dan dalam banyak cerita, dia tampak JAUH LEBIH MENGINGAT DETAIL. Sementara, gw seperti biasa dalam banyak cerita reuni cuma bisa manggut-manggut sembari berkomentar: Masa?-Oh iya ya?-Oh my God, emang segitu berkesannya ya melakukan hal-hal bersama eke…hehe-serius gw pernah ngomong gitu?-dst-dst. Sampai akhirnya:
“Oya gue mo tanya sesuatu ama lu. Hmm, it’s kind of unfinished business with u. Etis gak ya gw tanya ini?” sembari sorot matanya terlihat menimbang-nimbang.
Yak…masalah atau apapun itu mulai terasa dekat.
“I think…I’ve ever said something to you……but your body language said no…was it true?”
“Hm?” Niat gue malam ini cuma mau berpartisipasi dalam obrolan nostalgia ringan masa-masa di Bandung…malah berakhir dengan terlalu banyak pengakuan…“I actually didn’t say no.” Ha, Thanks to my big mouth…yang ‘banci’ sharing dan presentasi…(aduhh, efek profesi). Ahhh, jawaban tadi terlalu cepat, terlalu cepat, terlalu cepaaaat. Terlalu spontan dan reaktif, nih. Next time, be responsive please. Not reactive. Okeh, sekalian aja mari kita masuki ajang pengakuan dosa. Kayaknya bakal seru juga. Tombol hijau di hati sepertinya mulai kedap-kedip, dan…membesarrrrrr??? You know, I’m always prepared to hear the truth. But then I realize that I’m hardly prepared to tell someone the truth. Jadi kenapa nggak untuk coba memulai malam ini? Seenggaknya kejujuran itu ‘kan menyehatkan jiwa. Jadilah obrolan malam itu lebih mengarah ke pengakuan dosa yang berantakan. ‘Ngegotik’ yang menguras hati dan logika.
DUANXXXXXXXX!!!!! Kepala mau pecah. Selalu begini kalau terlalu banyak informasi yang masuk ke otak gue bertubi-tubi (who’s not anyway?). Tapi, masalahnya ini bukan hanya informasi baru…setumpuk file yang udah lama terkubur dalam yang namanya ‘folder delta-alam bawah sadar” slash “recycle bin-tapi sayang untuk bener-bener dibuang” juga ikut di korek dan diobrak-abrik. Itulah si tombol hijau. Tombol kecil yang sekarang ternyata sudah sebesar kepala dan benar-benar pecahhhh. Di dalamnya terlihat gudang yang besar dan agak berantakan.
Hhhh…my oh my short memory sindrom…orang menyebutkan nama waktu baru kenalan aja bisa dalam 2 menit langsung otomatis masuk recycle bin otak gue kok, apalagi memory yang bertahun-tahun lalu? then u can imagine…
Jadi kalo semua nama dalam gudang slash recycle bin itu aja hanya bisa terlihat samar, apalagi nama-nama seperti Bonita, Patricia, Siska, Wichita, Okigawa, dan entahlah sederetan nama cantik lain dari perjalanan cintanya yang baru diceritakan, tidak terdengar begitu jelas lagi. Mahasiswi ampe pramugari….enam bulan ampe 4 tahun…apa ya itu…usia kehamilan atau umur kucing pun udah gak terdengar berarti.
Tapi kali ini sepertinya bukan sekedar karena masalah ingatan. Ini hasil dari si tombol hijau. Ahhh, toh yang penting adalah apa yang gw katakan sekarang, bukan yang sudah terjadi dan yang sudah dia ceritakan. Hhhhhh, meskipun isi kepala jadi berantakan…seenggaknya si gudang berantakan di hati udah sedikit di rapikan dan itu lebih melegakan.
Kenapa pengakuan seperti ini tidak dilakukan pada yang lain sebelum semuanya terlambat, ya? Sebelum ‘gaun indah’ lainnya sudah terbeli untuk dihadiahkan kepada oranglain. Beberapa nama bermunculan di kepala untuk juga diberi pengakuan dosa, yang pastinya saat aku melakukannya nanti sudah lebih bagus tertata. Hehe. Tapi…oops, apakah semuanya yang ada di list sudah terlambat? Ouch. Ok, back to this guy in front of me first. Kelarin aja dulu yang satu ini. Baru pikirin yang lain. Fokus, neeeeng. Now all I need to know, where this conversation is gonna bring me to.
“Ok, berarti saat itu gw bego ngga berusaha lebih keras, dan lu bego karena ngga ngeh-ngeh juga,” ia menarik kesimpulan dari semua pengakuanku. Kesimpulan yang sangat tepat di satu sisi, karena aku bener-bener tidak ‘ngeh’ seperti biasanya aku jika ada yang memberi sinyal-sinyal ajaib itu. Hggg, ini dia susahnya hidup di lingkungan pertemanan yang sangat-sangat ekspresif. Hal-hal biasa aja di tunjukkin berlebihan. Ya kata-kata, ya ekspresi, ya perbuatan. Dari yang semi ampe yang totally Drama Queen. Jadi saat ada seseorang dari luar sana yang tidak extremely expressive untuk nunjukkin bahwa ada sesuatu yang ‘lebih’, I just don’t notice. Not that I don’t want to. Emang nggak ngeh aja.” Tapi kesimpulannya tadi juga salah di sisi yang lain. Coz somehow… at that moment, I actually saw that we wouldn’t go anywhere. Gaun yang bukan untukku.
“Sadar nggak sih kita nggak pernah kontak fisik?” katanya tiba-tiba mengagetkanku dengan isi pertanyaannya, bukan karena ‘tiba-tiba’ nya. Here we go.
“Maksudnya?” aku pasti terdengar bodoh. At least keluar dengan mantap. Yang penting mantap dulu deh, ah. Masih jetlag nih.
“Ya kontak fisik….u know…” auuuchhh, mata itu tiba-tiba sangat familiar.
“Masa sih??? kayak: yuk makan… sambil gw gandeng lu gitu, masak ga pernah….???” Aku masih berusaha terlihat biasa untuk reaksi tidak biasa yang mulai kembali mengguncang si gudang.
“Ya bukan yang begitu…u knoowww…”
“Ohhh…ok. Ya iyalah ga pernah, kan kita nggak pernah pacaran.” Huahhh, asal dia tahu sampai detik ini aku masih mempelajari pola pikir orang-orang yang bisa melakukan hal itu tanpa komitmen. Masalahnya aku hanya tidak bisa mengerti. Belum, mungkin.
“ Ok ok, You know…I’m just curious if u dare to kiss me on my lips….”
GEDUBRAKKKK. Yak, si gudang yang tadinya rapi sekarang sudah hancur lebur. Setengah nggak jelas…(dan nggak percaya?) Aku mendengar pertanyaan itu sambil tanganku terus berusaha membuka gembok pagar rumah. Heyyy, gembok pagar ini biasanya sangat gampang dibuka!!!!! Tapi kenapa tiba-tiba jadi macet begini? Jari-jari tangan kananku dapat pengakuan otentik dari semua penghuni kos untuk dianggap ahli membuka gembok ini.
“Jangan grogi gitu, dong!”
“Huahauhahahaha, sial lu,” This time, I’m trying so so so hard not to become overly emotional. Stay rational. Stay rational. Stay rational.
“Gue tahu kalo lu bakal nyengir kuda kayak gitu…” katanya sambil mendekat berusaha membantu. Tidak tidak tidak, jangan dekat. I can’t stand of physical contacts. I’ll become very unraaaaaational!!! BRUKKK….gembok suksesssss terbuka. Manusia jika di bawah tekanan memang suka dapat pencerahan.
“So the answer is?”
“Hmm….hehe, no, for me is no. Sorry,” jawaban hampir mantap yang beradu pedang dengan rasa penasaran. At least terdengar mantap.
“Why?”
“For the sake of your wife” Iyalah….yang baru pacaran aja nggak pernah berani gw ganggu, apalagi yang udah komitmen lebih.
“Ok, so it’s for the sake of my wife, not becoz I’m a married man?”
Apa bedanya ya? But anyway…“Yesss” anggukan yang mantap. At least terlihat mantap. Tapi ini sepertinya beneran mantap. Reruntuhan gudang sudah beres, tampaknya. Tidak ada lagi sisanya. Kemana ya perginya. Tetapi memunculkan sensasi hebat. Karena kini mulai terpikir malah kalau orang ini tidak bersyukur apa ya? Istri dan anak perempuan cantik-cantik plus pekerjaan mapan ternyata masih nggak berhasil bikin orang memandang ke depan. Tapi sibuk ngurusin kliping nggak penting yang harusnya nggak perlu diselesaikan. Malah harusnya di buang aja. Karena isi klipingnya cuma kenangan gambar-gambar HP yang dulu pengen banget di beli dan sekarang toh udah nggak jaman. Dibuka-buka klipingnya terus jadi kepingin punya-siapa tau masih ada yang jual-sekedar buat disimpan sebagai koleksi. Seru aja buat ngisi waktu luang. Bisa jadi bahan obrolan guystalk pula.
“Well, gw juga berani nanya ini karena gw tau lu bakal bilang nggak…karena gw tau lu orang yang setia. Thanks ya. Nite nite.”
Dia berlalu. Daaaaammmmned. Terima kasih akal sehat. (Terdengar seperti intonasi iklan Tje Fuk di kepalaku.) Terima kasih sudah mau bekerja keras di jam 3 pagi ini. Terima kasih untuk berteguh pada pendirian yang dibangun bertahun-tahun, yang hampir berantakan karena ‘ujian prinsip hidup’ selevel S3 ini-emang S3 rasanya gimana siiiyy???? Thanks to a glass of coffee and lemon tea only. Meskipun godaan sebotol bir dingin melambai-lambai sepanjang obrolan di café. I just wanna stay sober tonite for the case like this!!!! Ini saja tidak teringat dengan jelas, bagaimana aku yang tadinya ngobrol di café bisa sampai di rumah. Kopi dan teh aja bisa semabok ini?
Sms. Nggak. Sms. Nggak. Sms. Nggak. Sms. Nggak. Aduh beserrr….pipis dulu ahh. Back to the bedroom. See, bersabar dong. Terpampang 1 sms. Bales 1 sms. Muncul 1 sms. Ok, 3 is enough. Sms penutup sebelum tidur yang bikin susah tidur. Tidak perlu dibalas lagi. Tidak perlu dibalas lagi. Tidak perlu dibalas lagi. Aku menguatkan hati.
Hhhhhhhh…..aku mengambil napas panjang untuk mengawinkan otak dengan oksigen. Beranak pinaklah mereka menghasilkan pikiran jernih yang lebih banyak. Mulai terpikir lagi kalau malam ini bukan sekedar masalah prinsip setia nggak setia. Kissing u on your lips? WOW DARLING, AT THE TIME I DO IT, YOU’RE DONE WITH YOUR UNFINISHED BUSINESS…BUT MINE THEN JUST STARTED…
FINITO. It supposed to be so. Darling, I’ll let your fantasy alive in what you call as your parallel world. And this super special-spicy-presto-ready to eat-yummy head to toe salmon will always be kept in a clearly seen-strong-hard to open tin…without letting you know further how hard it keep itself not to jump out to satisfy its awkwardly charming and tempting predator.
You’re not the first time. But, surely one of the hardest distraction to ignore. Hopefully, I’ve learned one higher level of this kind of game. Because there will always be another you for distraction. So, I guess…….it’s much more about a bunch of most men ego versus my lil’ one. Yes, that’s what it’s all about. WHAT A REAL UNFINISHED BUSINESS.
***
Epilogue:
Ryo Ardhana
26-04-07 05:15
“my woman, can we skip dating” GILAAA… honestly if it’s a short novel, i’ll give u award for it. Hehehe selain elo banget and it has great style of words that u used…
Bangun di jam setengah sembilan pagi dengan menemukan sms baru darinya membuat ego ku benar-benar menari…tapi otak dan hati kosong…tak tahu harus merasa apa…karenanya tidak tahu harus menjawab apa. Sampai akhirnya hampir satu setengah jam kemudian:
Pinkan
26-04-07 09:54
And now i think i just had my nxt story in mind about UNFINISHED BUSINESS huehehe
------
Thursday, November 22
KELUAR DI DALEM
(Rabu, 21 November 2007)
Latong : Sebenarnya loe keluarin di dalam ato di luar siy?
Pinko : Hmmm, di luar kayaknya…kok gw lupa ya?
Latong : Kok bisa lupa? Gawat banget siy lo? Enaknya tuh keluar di dalem bo…kalo di luar, capek…
Pinko : Semenjak diajarin yang bener…pas di dalem malah gw tahan-tahan…salah ya?
Gw masih belum menikmati siy…masih pake mikirrrrr tiap gerakannya…
Tapi seenggak-enggaknya, setelah tau yang bener, gw nggak nyangka bisa selama en setahan itu…gila deh…
Ah, jadi nggak sabar ketemuan lagi minggu depan…mudahan udah nggak pake mikir…udah lebih enjoy…dan bisa keluarin di dalem…pasti lebih dahsyat…
Latong : Tapi gaya loe dah lebih mendingan kok…
Pinko : Oya? jadi malu heueheu pantesan selama ini gw nggak bisa bertahan lama ya…
Aduh, badan gw remuk redam niy…baru kali ini selama dan setahan ini…tapi gw senenggg dehhhh…minggu depan lagi ahhhh….
Latong : Bener ya, minggu depan ketemuan lagi…jangan absen2 dong jadwal berenangnya, biar gaya kupu-kupu loe makin bener…
Napasnya tuh terutama dibenerin, dikeluarin pas loe di dalem air dan di luar tinggal narik napas doang…jadi nggak gampang capek…
Pinko : Syiippppp…ampe ktemu bernang lagi rabu depan yaaaaaaaaaaa…
Tuesday, June 12
MPEK-MPEK KULIT
(Senin, 11 Juni 2007)
Bangun siang ini (heh???siangggg???) terasa berat. Aku memandang kardus dengan setumpuk paket oleh-oleh dari kota 'wong kito galo' yang aku bawa 3 hari yang lalu. Aduuuuh, menggoreng mpek-mpek itu terasa 3 kali lebih berat dari ujian thesis S3 (idiih, padahal S2 saja aku belum). Kenapa juga aku memilih mpek-mpek kulit yang harus digoreng segala, ya!? Yang terpikir saat membelinya memang karena yang jenis itu jarang kutemui di ibukota. Apalagi mpek-mpek Lenny dengan spesialisasi mpek-mpek kulitnya itu lagi happening di Palembang, pastinya aku membawa sesuatu yang istimewa untuk teman-teman di Jakarta. Jadilah untuk setiap paketnya aku pilihkan sebagian mpek-mpek kulit dengan porsi yang lebih banyak dari jenis mpek-mpek lainnya. Mau bawa oleh-oleh aja perfeksionis sih pengen dikenang segala, jadilah semua keribetan ini menghampiri dengan sempurna. Mana aku sudah janji akan membagi-bagikannya hari ini, lagi. Janji adalah janji. Coz I'm a word person. Seperti lirik lagu pembuka acara News.com di Metrotv, janji sini janji sana asal bijaksana. Heh? Masak janji bawa mpek-mpek aja nggak bijaksana???? Tinggal di goreng,Pinky....tinggal digorengggg!!!! teriak suara hati kecilku.
Ampun, rasa malas menggoreng mpek-mpek ini menghantam keras karena otakku sudah aku brainwash sendiri bahwa aku tak bisa memasak. Dan dunia ini toh juga memaklumi hal itu. Tidak seorang pun protes kalo perempuan kota tak bisa memasak. Tapi semua menganga heran kalo masih ada perempuan kota yang tidak bisa menyetir. (Dan aku tidak bisa dua-duanya?????hiks)
Sekilas aku melihat jam dinding...setengah 12???? masih harus ke bank, anter 2 bungkus besar mpek-mpek ke kantor yang satu di Ratu Plaza, anter 1 bungkus utk teman yang berulangtahun, anter 3 bungkus ke kantor kedua di Menara Thamrin, submit pekerjaan dari luar kota di kantor kedua yang lumayan banyak….aku pun langsung menyambar berbungkus-bungkus paket mpek-mpek itu. Whatever will be, will be…(by Renaldi, di salahsatu film –bokep-Indonesia jadulnya heuhehue)…
Ibu kos dengan senang hati membantu utk mengontrol gorenganku, tapi tidak senang hati membagi minyak gorengnya. (Menurut loe, Pinkkk? Semua koran dan tv sedang membahas harga minyak goreng gitu lohhh????)
Bungkus pertama. Aku menatap tajam ke kertas selipan Petunjuk Khusus Menggoreng dari ci Lenny, penjualnya. Ini mpek-mpek istimewa dengan cara memasak yang tidak boleh salah, kecuali kalo rela makan mpek-mpek kulit rasa karet. (By the way, di bandara tidak seorangpun terlihat membawa mpek-mpek Lenny…melainkan mpek-mpek Vico, Candy, Ahmad, Pak Toha, dan sederet nama lain yang semuanya mengaku istimewa…apakah mereka lebih direpotkan oleh mpek-mpeknya daripada aku?) Hwahhhh, memasak biasa aja butuh pengerahan seluruh energiku, ini harus memasak dengan cara khusus???? Akupun menggoreng dengan meminta dukungan semesta. Ibu kos melirik-lirik dari ruang tv yang tidak jauh dari dapur sambil senyam senyum. HP berdering pun tak ku gubris karena ini adalah meeting super duper extra penting antara aku dan mpek-mpek kulit ku. Ini pun baru sesi ‘ice breaking’ that hard to break, hellppppp…..
Suara ibu kos yang akhirnya ikut membantu, akhirnya juga bisa membuat aku bernafas normal,” Segini udah mateng nih, Pink,”……bfffwuahhhhh….rasanya kayak baru muncul di permukaan air setelah 1 menit nahan nafas maen lama-lamaan menyelam di kolam renang.
Bungkus kedua. Ibu kos masih dengan baik hati melibatkan diri.
Bungkus ketiga. Sang maestro urusan dapur masih tetap terlibat. Tapi kali ini kok rasanya lebih ke pengontrolan pemakaian minyak goreng. Gue beliin 2 botol baru deeeeeehhhh, teriakku dalam hati. Kalo saja bukan karena kemahirannya membolak-balikkan mpek-mpek itu….ughhhh…
Bungkus keempat. Sang owner dari minyak goreng (dan dapur ini, tentu saja) hanya tinggal mengawasi, aku sudah bisa bolak-balik gundukan-gundukan tepung ini sendiri. Masih kaku, tapi setidaknya mereka tidak cerewet untuk dibolak-balik.
Bungkus kelima. Hmmm, mulai terbiasa. Ibu kos sudah sibuk sendiri di ruang tv. Entah karena sudah percaya pada kemampuanku, atau sudah berasa ACDC-Aduhhh, Cape Duehhhhh, Cingggg. Culik dikit nambah minyak goreng, ahhhh. Heuheuehue. Wow…look, I can cook. It’s fun actually, pikirku sambil menyeka keringat di seluruh wajahku yang segede-gede dosa (dosanya siapa?) slash yang sedahsyat kepelitan ibu kos (tapi akhirnya selintas terpikirkan olehku kalo bisa jadi itulah ibu rumah tangga yang pandai berhemat) slash yang sespektakuler rasa malasku di awal bangun tidur.
Bungkus-bungkus berikutnya aku sudah merasa seperti koki-koki handal di tv…..
Alrighttttt….Bungkus ke delapan. It’s a wrap. Hihihihi…aku cengengesan sendiri membayangkan aku bisa memasak. Dua bungkus lebihnya untuk dibagi-bagi di kos dan diri sendiri. Kan harus kasih hadiah untuk diri sendiri. Hi, my future husband wherever you are, you’re lucky!!!! (Berlebihannn…hehe)
Aku merapikan 8 bungkus mpek-mpek kulit dengan aroma luar biasa dan warna kuning menggoda itu bersama dengan teman-temannya dari jenis yang berbeda di setiap paketnya. Siap diantar ke berbagai ‘spot’ yang sudah dijanjikan. Kepuasan tidak terkira mengaliri seluruh rongga dadaku. Kepuasan karena ternyata aku bisa. Dan terbukti dari erangan-erangan nikmat keluar dari mulut beberapa penghuni kos yang sudah mulai menyerbu 1 paket hasil memasakku. (Hei, tentu saja mengerang, karena kepedesan bumbunya.)
TERNYATA BENAR, Lebih mudah untuk mulai melakukan sesuatu untuk bisa merasakan sesuatu, daripada harus merasakan sesuatu dulu untuk mau mulai melakukan sesuatu.
(Psikolog Harvard Jerome Bruner,”Lebih mudah bertindak sebelum merasakan sesuatu, dibanding merasakan sesuatu untuk bertindak.” )
That simple!!!
Saturday, April 28
PROYEK MERCUSUAR
P1 : Hmmm…pacarannya berasa udah lama nggak sehat. Gue mati rasa dan dia berlebihan. Jadi baru hari ini tadi gw putusin. Sedih….
PINKO : Sedih??? Sedih ato lega?
P1 : Lega juga sih….
PINKO : Banyakan leganya kan?
P1 : Iya sih, hauahuahuahauahuahua
PINKO : Dasar, ga usah sok ngomong sedihnya duluan dong…
P1 : Hauahuahauhauahau
PINKO : Gila ya, but you two seem so perfect together. Ganteng dan ganteng, gaya dan gaya, baek dan baek, dia romantis lu cuek. Dia rapi dan lu asal. Dia teratur sedangkan lu harus di atur. Dan kalian ga pernah berantem. So, God damn why??????
P1 : …..
O : Itu mungkin namanya Proyek Mercusuar Pink.
P1 : …..
PINKO : Hah? Ohh? Ohh…ya?? wow, waduh...ok….I know then. Damned! Dan itu yang bikin kita gak pernah ngerti napa (what we see or we think as) perfect couples bisa tiba-tiba bubyarrrr.
O : Dan mungkin bisa bikin kita juga ga sirik. Karena begitu mulai sirik ama yang terlihat perfect, we never know…bisa jadi, cuma PROYEK MERCUSUAR! Yang satu selingkuh…yang satunya udah pasrah. Atau dua-duanya asas manfaat. Atau based on whatever other reason that we don't know Hehe…
PINKO : Wowwwww…hmmm….kok tiba-tiba ngarep beberapa orang memang bener-bener cuma proyek mercusuar ya? hauahuahauhauahuah n i don't know why, somehow i believe they are....
O : Hauahuahuahauahuahua, DASAR.
P1 : Hauahuahauhauauahua, SILENT BITCH.
BRUTALITY BONUS (TWO WAY MONOLOGUES)
Gw takut ama lu. Lu terlihat yakin saat masuk dan ambil tempat duduk dengan meluk laptop lu yang gw yakin di balik bungkusnya adalah Mac. Dan gw rasa gw tau tipe lu dari pilihan laptop lu. Lu lebih senang memilih sesuatu yang long lasting. Waktu itu lu jalan dengan fokus. Benar-benar datang dengan udah tahu mo duduk di mana dan dengan tujuan hanya mau nonton live music, nyanyi-nyanyi, bersenang-senang dengan teman-teman lu, that’s all. And the way you dress, I like it. You’re simple. That’s sexy. Dan gw berfantasi tentang lu. Tapi gw juga berpikir, ngehe nih cewek…..napa dia bikin gw takut ama dia. Beneran lu bikin gw takut.
-----hmmmm…bla bli bluuuu-----
I do think you’re sexy…I wanna make love with you...and you?
-----ohhhh…brak bruk braaaak-----
You seem like a sex lover, so why not?
-----hhhhhhh….blah bleh blaaaaah-----
Gue punya masalah dengan relationship….gue selalu suka dengan perempuan menikah. Entah, tantangan aja. Lagian, posisi gue aman dan dia aman. We were great sex partner. Terakhir gw berhubungan dengan dia 6 bulan lalu. Entah kenapa hari ini dia tiba-tiba hubungi gw lagi. Baru tadi gw bales sms-nya.
-----eeeeee….bas bis buuuusss-----
I do really wanna make love with you, how good are you?
-----aaaa…..eng ing enggggg-----
I’m summa cum laude in sex. Just name it: Japan, Canada, USA, Jerman, France style, etc. You?
-----grrhhhhhh….teng teng teng-----
I believe it if you said you’re summa cum laude, too. I don’t know. From your gesture maybe. So, you’re summa cum laude, damned….
-----huhuyyyyy….bak buk bak buk-----
But sex is communication. I never push people. Kalo lu ga nyaman dengan gw ngomong gini, lu boleh menghindar dan menghilang. Gue dah biasa kok. I just speak up my mind that you’re in my fantasy. Lu bikin gw berfantasi.
-----uhhhhh….ting…ting…tingggg-----
Damned, I wish I met you 4 years ago. Terakhir 4 tahun lalu? Pasti lu disakitin banget ya. Perempuan napa sih suka trautamic begitu? Kalo laki-laki, dia gak traumatic, tapi biasanya dia suka mengganggap YANG TERAKHIR pasti lebih baik dari YANG DIA JALANI SEKARANG. Dan itu suka bikin dia menyesal but he can deal with it.
-----ehmmmm….gedubrak…gedebuggg…blah bleh-----
Lu cantik! Beneran lu cantik, gue suka ama lu. Tapi, kenapa selama ini gw suka sama perempuan-perempuan bersuami ya? Mungkin kalo gw mencoba sama yang single kayak lu, gw bisa menikah. Tapi belum kepikiran ama gw. You really don’t wanna make love with me?
-----krompyangggg….pletakkkkkk-----
Ok, ok…ini terakhir…tipe cowok lu yang gimana?
-----sat setttttttt….sat sat setttttt-----
Hmmm…You’re trembling….. why?
-----(KARENAAAAA...SELAIN) KALO MINUM KOPI KEBANYAKAN GW EMANG TREMBLING… (INI PERTEMUAN PERTAMA!!!!! MENURUT LOEEEEEEEE?????????) WHAT A BRUTALITY BONUS FROM A FRIENDLY FIRST SMILE AND HELLO! -----
Subscribe to:
Posts (Atom)